Kamis, 29 April 2010

Sejarah Perkembangan Akuntansi

SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI
A. Evolusi Pembukuan Pencatatan Berpasangan
1. Sejarah awal akuntansi
Kebanyakan scenario tersebut mengakui adanya kehadiran suatu bentuk pelaksanaan pencatatan di sebagian besar kebudayaan sejak sekitar 3000 tahun sebelum masehi.
Menurut A.C. Littleton membuat daftar tujuh prasarat bagi munculnya pembukuan yang sistematis:
Seni Penulisan (The Art Writing), kerana pembukuan pada intinya adalah sebuah catatan; Aritmatika (Arithmetic), karena aspek mekanis dari pembukuan mengandung adanya serangkaian perhitungan sederhana; milik Pribadi (private Property), karena pembukuan haynya berkepentinagn dengan pencatatan fakta-fakta mengenai harta benda dan hak miliknya; Uang( money) yaitu transaksi yang belum selesai, karena tidak ada dorongan untuk membuat catatan apapun jika seluruh pertukaran dilakukan disaat itu juga, perdagangan (commerce), karena sebuah penjualan saja tidak akan menciptakan cukup tekanan ( volume bisnis ) untu merancang manusia mengkoordinasikan berbagai pemikiran kedalam suatu system, modal (capital), karena tanpa modal perdagangan tidak akan berarti dan pemberian kredit menjadi sesuatu yang tidak mungkin bisa di bayangkan.
2. Kontribusi Luca Paccioli
Nama luca pacioli seorang pastor dari ordo fransiskus, pada umumnya diasosiasikan dengan pengenalan pembukuan pencatatan berpasangan untuk pertama kalinya. Pacioli menyarankan agar “ tidak hanya nama dari pembeliatau penjual saat dicatat,begitu pula deskripsi mengenai barangnya yang berat, ukuran atau hasil pengukuran, dan harganya, tetapi syarat pembayaran juga harus ditampilkan dan kapan saja uang diterima atau dikeluarkan, pencatatan akan menyajkan jenis mata uang yang diperguanakan”.



3. Perkembangan pembukuan pencatatan berpasangan
Dalam sebuah usaha menunjukkan bahwa model pencatatan berpasangan telah mengalami evolusi dengan cara yang sangat mirip dengan ilmu pengetahuan secara umum, Cushing mencatatkan serangkaian perkembangan. Perkembanagn tersebut meliputi hal-hal berikut ini:
• Sekitar abad ke-16 terjadi beberapa perubahan di dalam teknik-teknik pembukuan. Perubahan yang patut dicatat adalah diperkenalkannya jurnal-jurnal khusus untuk pencatatan berbagai jenis transakisi yang berbeda.
• Pada abad ke16 dan 17 terjadi evolusi pada parktik laporan keuangan periodic. Abad ke-17 dan 18 terjadi evolusi pada personifikasi dari seluruh akun dan transaksi, sebagai suatu usaha untuk merasionalisasikan aturan debit dan kredit yang digunakan pada akun-akun yang tidak pasti hubungannya dan abstrak.
• Penerapan dari system pencatatan ber[asangan juga diperluas ke jenis- jenis orgasnisasi yang lain.
• Abad ke 17 juga mencatat terjadinya penggunaan akun-akun persediaan yang terpisah untuk jenis barang yang berbeda.
• Dimulai dengan East India Company di Abad ke-17 dan selanjutnya diikuti dengan perkembangan dari perusahaan tadi seiring dengan revolusi industri, akuntansi mendapatkan status yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan adanya kebutuhan akan akuntansi biaya, dan kepercayaan yang diberikan kepada konsep-konsep mengenai kelangsungan, periodisitas, dan akrual.
• Metode-metode untuk pencatatan aktiva tetap mengalami evolusi pada abad ke-18.
• Sampai dengan awal abad ke-19, depresiasi untuk aktiva tetap hanya diperhitungkan pada barang dagangan yang tidak terjual. Pada paruh kedua abad ke-19, depresiasi pada industri rel kereta api dianggap tidak dibutuhkan kecuali jika aktiva tetap tersebut dinilai memiliki kondisi yang sudah tidak dapat dipergunakan.
• Pada paruh terakhir dari abad ke-19 terjadi perkembangan pada teknik-teknik akuntansi untuk pembayaran dibayar dimuka dan akrual, sebagai cara untuk memungkinkan dilakukannya perhitungan dari laba periodic.
• Akhir abad ke-19 dan ke-20 terjadi perkembangan pada laporan dana.
• Di abad ke-20 terjadi perkembangan pada metode-metode akuntansi untuk isu-isu kompleks, mulai dari perhitungan laba per saham, akuntansi untuk perhitungan bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa jangka panjang dan pensiun, sampai kepada masalah penting dari akuntansi sebagai produk baru dari rekayasa keuangan (financial engineering).

4. Perkembangan Prinsip-Prinsp Akuntansi di Amerika Serikat
Empat tahap dari proses ini yang dapat diidentifikasikan:
• Tahap Kontribusi Manajemen (1900-1933)
Konsekuensi dari adanya ketergantungan kepada inisiatif manajemen ini akan meliputi:
1. Jika melihat sifat pragmatis dari solusi yang diterapkan, maka kebanyakan teknik-teknik akuntansi kurang memiliki dukungan teoritis.
2. Fokusnya adalah menentukan laba kena pajak dan meminimalkan pajak penghasilan.
3. Teknik-teknik yang diadopsi dimotifasi oleh keinginan untuk meratakan laba (earnings smooth).
4. Masalah-masalah yang kompleks dihindari dan solusi yang cepat diadopsi.
5. Perusahaan yang berbeda akan mengadopsi teknik-teknik Akuntansi yang berbeda untuk masalah yang sama.
• Tahap kontribusi institusi (1933-1959)
1. Pada tahun 1934, kogres menciptakan SEC dengan tugas untuk mengelola beragam hukum-hukum investasi federal, termasuk Undang-Undang Sekuritas pada tahun 1933 yang mengatur penerbitan sekuritas di pasar-pasar antarNegara bagian dan Undang_Undang sekuritas tahun 1934 yang mengatur perdagangan sekuritas.
2. Setelah publikasi yang dilakukan oleh Ripley di dalam suatu artikel yang mengkritik teknik-teknik pelaporan sebagai sesuatu yang memperdayakan sebagai tambahan, komite mengusulkan percobaan resminya yang pertama untuk mengembangkan teknik-teknik akuntansi yang berlaku umum. Dikenal sebagai prinsip-prinsip umum”(board principles) dari May, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
• Bahwa akun-akun pendapatan seharusnya tidak tidak termasuk laba yang belum direalisasi, dan pengeluran- pemgeluaran rutin yang dapat dibebankan kepada laba seharusnya tidak dicatatkan pembebenkannya terhadap laba yang belum direalisai.
• Surplus modal(tambahan modal disetor) hendaknya tidak dibebabankan dengan jumlah yang umumnya dapat dibebankan kepada laba.
• Bahwa surplus yang dihasilakan (atau laba ditahan) dari suatu anak perusahaan yang dibuat sebelum terjadianya akuaisisi adalah bukan menjadi bagian dari surplys keuntungan konsolidasi dari induk perusahaan.
• Bahwa deviden dari saham diperoleh kembali ( treasury stock) tidak dapat dikreditkan ke laba perusahaan
• Bahwa jumlah piutang dari para pejabat, karyawan, dan perusahaan afiliasi hendaknya disajikan secara terpisah.
3. CAP menerbitkan 12 Accounting Research Bulletins (ARB) selama periode 1938-1939 saja , dan tetap terus malakukannya selama masa-masa perang. Periode psca perang adalah masa aktivitas yang sangat banyak bagi CAP, denga diterbitkannya 18 ARB mulai dri tahun 1946 hingga tahun 1953, dengan strategi untuk mengeliminasi praktik-praktik akuntansi yang dicurigai dan dipertanyakan, dan berfokus pada masalah pelaporan khusus, termasuk akuntansi untuk dampak dari perusahaan tingakat harga, dan merekomendasikan konsep kinerja operasional saat ini dengan ARB 32.
• Tahap Kontribusi Profesional (1959-1973)
Ketidakpuasan terhadap CAP dengan sangat jelas diungkapkan oleh presiden AICPA. Suatu Komite khusus atas program riset mengusulkan untuk melakukan pembubaran CAP dan departemen risetnya. AICPA menerima rekomendasi dari komite dan mendirikan Dewan Prinsip Akuntansi (APB) dan Divisi Riset Akuntansi dengan misi untuk memajukan pernyataan tertulis dari apa yang dinyatakan sebagai prinsip akuntansi berlaku umum.
APB juga menerbitkan berbagai opini yang menangani isu-isu controversial, asosiasi akuntansi amerika juga ikut berpartisipasi dengan melakukan beberapa riset atau percobaan. Tetapi usaha yang dilakukan tidak berhasil.
APB ditentang dan dikritk untuk :
1. opini yang terbatas, controversial / ad hoc.
2. kegagalannya untuk memecahkan masalah mengenai akuntansi bagi kombinasi bisnis dan goodwill.
Intervensi dari asosiasi dan agen profesi di dalam formulasi suatu teori akuntansi dipicu oleh usaha-usaha untuk melenyapkan teknik yang tidak dikehendaki dan mengodifikasikan teknik yang dapat diterima.
Ketidakpuasan akibat adanya intervensi professional, adalah suatu cara yang efektif untuk menarik perhatian masyarakat umum akan adanya penyalahgunaan akuntansi yang mendominasi beberapa laporan tahunan tertentu.
• Tahap politisasi (1973-sekarang)
Keterbatasan yang dimiliki oleh baik asosiasi professional maupun manajemen di dalam memformelasikan suatu teori akuntansi telah mengarah kepada pengadopsian suatu pendekatan yang lebih deduktif sekaligus melakukan poltisasi atas proses penetapan standarnya, sebuah situasi yang diciptakan oleh pandangan yang berlaku umum bahwa angka-angka akuntansi mempengaruhi perilaku berekonomi dan sebagai konsekuensinya, aturan akuntansi hendaknya dibuat di dalam arena politik. Sejak awal FASB telah menerapkan sebuah pendekatan deduktif dan quasi politik dalam formulasi dari prinsip-prinsip akuntansi. FASB mendapatkan nilai yang baik, pertama , dengan adanya usaha untuk mengembangkan suatu kerangka kerja teoretis atau kesepakatan dalam akuntansi, dan kedua, dengan lahirnya berbagai kelompok yang berkepentingan yang kontribusinya diperlukan bagi penerimaan umum atas standar baru. Oleh sebab itu, proses penetapan standar memiliki aspek politis di dalamnya.
Setelah menekankan perlunya pemerintahan federal memastikan bahwa perusahaan yang dimiliki public telah benar-benar bertanggung jawab kepada masyarakat, rekomendasi untuk meningkatkan akuntabilitas perusahaan :
1. Kongres hendaknya menerapkan pengawasasn yang lebih ketat atas praktik akuntansi yang telah disetujui oleh pemerintahan federal.
2. Kongres hendaknya menyusun sasaran-sasaran akuntansi yang komprehensif bagi pemerintahan federal untuk memandu agen dan departemen dalam melaksanakan tanggung jawab mereka.
3. Kongres hendaknya melakukan amandemen UU sekuritas federal untuk mengembalikan hak individu yang mengalami kerugian.
4. Pemerintahan federal hendaknya menetapkan standar akuntansi keuangan bagi perusahaan yang dimilki public.
5. Pemerintahan federal hendaknya mengharuskan lima belas KAP terbesar nasional memberikan laporan opersional dasar dan laporan keuangan tahunan.
6. Pemerintahan federal hendaknya memberi izin KAP yang bertindak sebagai auditor independent untuk kepentingan pelaksanaan audit dannjasa akuntansi saja.

5. Akuntansi dan Kapitalisme
Akuntansi dan kapitalisme saling dikaitkan oleh beberapa sejarawan ekonomi dengan adanya klaim umum bahwa pembukuan pencatatan berpasangan adalah suatu hal yang vital di dalam perkembangan dan evolusi dari kapitalisme.
Hubungan antara akuntansi dan kapitalisme ini selanjutnya dikenal sebagai tesis atau argument SOMBART, yang mengemukakan bahwa tranformasi aktiva menjadi nilai abstrak dan ekspresi kuantitatif dari aktivitas dan akuntansi yang sistematis dalam bentuk pembukuan pencatatan berpasangan membuat adanya kemungkinan seorang wirausahawan yang kapitalis untuk melakukan, merencanakan, mengukur dampak dari aktivitas yang dilakukan serta melakukan pemisahan dari pemilik dan bisnis itu sendiri, sehingga memungkinkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan.
Peranan dari pencatatan berpasangan di dalam ekspansi ekonomi setelah berakhirnya abad pertengahan :
• Memberikan kontribusi bagi munculnya satu sikap baru atas kehidupan ekonomi.
• Semangat baru untuk melakukan akuisisi yang didukung dan didorong oleh adanya perbaikan dari perhitungan ekonomis.
• Rasionalisme yang meningkat dengan adanya organisasi yang sistematis.
• Pembukuan pencatatn berpasangan mengizinkan adanya pemisahan atas kepemilikan dan manajemen dan karenanya meningkatkan pertumbuhan dari perusahaan besar dengan saham gabungan.
Menurut Yamey, bahwa pembukuan dengan pencatatan berpasangan tidak pernah digunakan untuk melacak laba dan modalnya, namun hanya digunakan untuk mencatat suatu transaksi.
Perbedaan pandangan mengenai pembukuan dengan pencatatan berpasangan terjadi antara Yamey dan Sombart, yaitu pada interpretasi atas pentingnya teknik-teknik awal pencatatan berpasangan dan penggunaannya, tetapi Winjum berpendapat yang bertentangan dengan pendapat Yamey, yaitu dengan menujukan bukti bahwa penetuan laba-rugi menjadi salah satu segi yang penting dalam pembukuan pencatatan berpasangan.

6. Relevansi Sejarah Akuntansi
Sejarah Akuntansi adalah studi atas evolusi yang terjadi pada pemikiran, praktik, dan institusi akuntansi sebagai respons dari perubahan lingkungan dan kebutuhan social.
Dalam kaitannya dengan perspektif kebijakan, sejarah akuntansi melakukan peran yang instrumental dalam memberikan pemahaman yang lebih baik atas permasalahan akuntansi serta kebijakan umum yang diambil.
Berkaitan dengan praktik akuntansi, sejarah akuntansi dapat memberikan penilaian yamg lebioh baik atas praktik akuntansi yang berlaku dengan cara melakukan perbandingan terhadap metode yang pernah digunakan di masa lalu.

7. Isu-isu Akuntansi International
Tiga konsep utama mengenai akuntansi internasional :
• Akuntansi untuk induk perusahaan-anak perusahaan di luar negeri atau akuntansi untuk anak perusahaan.
Merupakan konsep dengan ruang lingkup yang paling tua dan sempit, karena konsep ini memperkecil akuntansi internasional ke dalam proses pengsolidasian akun-akun dari induk perusahaan dan anak perusahaan serta mentranslasikan mata uang asing ke dalam mata uang local.
• Akuntansi komparatif
Untuk mengarahkan akuntansi internasional kepada studi dan pemahaman atas perbedaaan-perbedaan nasional di dalam akuntansi.
• Akuntansi universal atau dunia.
Merupakan konsep yang paling luas lingkupnya, karena mengarahkan akuntansi internasional menuju studi atas prinsip akuntansi yang diterima secara universal. Tujuannya untuk mendapatkan standarisasi lengkap atas prinsip akuntansi secara internasional.
Istilah harmonisasi sebagai kebalikan dari standarisasi yang memiliki arti sebuah rekonsiliasi atas berbagai sudut pandang yang berbeda.
Manfaat dari harmonisasi :
• Bagi banyak Negara, akan mengurangi biaya penyiapan untuk menerapkan standar kodifikasi akuntansi dan audit yang memadai dan juga menjadikan Negara tersebut menjadi bagian dari arus utama standar akuntansi yang berlaku secara international.
• Internasionalisasi yang berkembang dari perekonomian dunia dan menigkatnya saling ketergantungan dari Negara-negara di dalam kaitannya dengan perdagangan dan arus investasi international.
• Para pemasok modal, di dalam ,maupun di luar negeri, cenderung untuk mengandalkan diri pada laporan keuangan untuk mengambil keputusan investasi dan pinjaman terbaim serta cenderung menunjukan pilihannya pada pelaporan yang dapat diperbandingkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar